BAB I

Pendahuluan

  1. Latar Belakang

Sains adalah salah satu mata pelajaran utama dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, khususnya Pendidikan Dasar. Sains adalah mata pelajaran yang dianggap sulit oleh sebagian besar peserta didik, mulai dari jenjang Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas, dan mutu pendidikan sains di Indonesia, ditinjau dari perolehan NEM masih memprihatinkan. Semakin tinggi jenjang pendidikan,  maka perolehan rata-rata NEM sains atau IPA siswa menjadi semakin kecil. Hal ini tentunya sangat memprihatinkan, walaupun telah banyak upaya yang dilakukan, baik oleh pemerintah, swasta maupun para guru. Upaya tersebut mencakup dana, waktu, tenaga, dan pikiran yang telah banyak dicurahkan untuk meningkatkan mutu pendidikan sains, namun belum memberikan hasil yang memuaskan (Depdiknas, 2003).

Rahardjo dalam Mustolih (2007) menguraikan dengan berangkat dari teori belajar diketahui bahwa hakekat belajar adalah interaksi antara peserta didik yang belajar dengan sumber-sumber belajar di sekitarnya yang memungkinkan terjadinya perubahan perilaku belajar dari tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa, tidak jelas menjadi jelas, dan sebagainya. Sumber belajar tersebut dapat berupa pesan, bahan, alat, orang, teknik dan lingkungan. Proses belajar tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal. Faktor internal seperti sikap, pandangan hidup, perasaan senang dan tidak senang, kebiasaan dan pengalaman pada diri peserta didik. Bila peserta didik apatis, tidak senang, atau menganggap buang waktu maka sulit untuk mengalami proses belajar.

Baca ini juga Contoh Artikel Best Practice BAB II
Untuk melaksanakan pembelajaran IPA seperti di atas, diperlukan beberapa kecakapan guru untuk memilihkan suatu model pembelajaran yang tepat, baik untuk materi ataupun situasi dan kondisi pembelajaran saat itu. Sehingga pembelajaran tersebut dapat merangsang siswa untuk memperoleh kompetensi yang diharapkan. Dengan demikian siswa mampu menyelesaikan berbagai permasalahan baik dalam pelajaran ataupun dalam kehidupan sehari-hari .Dalam upaya meningkatkan kemampuan dalam memahami materi pembelajaran IPA seperti yang diharapkan, guru perlu mempersiapkan dan mengatur strategi penyampaian materi IPA kepada siswa. Hal ini dilakukan selain untuk mempersiapkan pedoman bagi guru dalam penyampaian materi, juga agar setiap langkah kegiatan pencapaian kompetensi untuk siswa dapat dilakukan secara bertahap, sehingga diperoleh hasil pembelajaran IPA yang optimal.

Konon dalam pelaksanaan pembelajaran IPA sekarang ini pada umumnya guru masih mendominasi kelas, siswa pasif (datang, duduk, nonton, berlatih,dan lupa). Guru memberitahukan konsep, siswa menerima bahan jadi. Demikian juga dalam latihan, dari tahun ke tahun soal yang diberikan adalah soal yang itu-itu juga tidak bervariasi, hanya berkisar pada pertanyaan apa, berapa, tentukan, selesaikan. Jarang sekali bertanya dengan menggunakan kata mengapa, bagaimana, darimana, atau kapan.

Untuk mengikuti pembelajaran di sekolah, kebanyakan siswa tidak siap terlebih dahulu dengan (minimal) membaca bahan yang akan dipelajari, siswa datang tanpa bekal pengetahuan seperti membawa wadah kosong. Lebih parah lagi, mereka tidak menyadari tujuan belajar yang sebenarnya, tidak mengetahui manfaat belajar bagi masa depannya nanti. Mereka memandang belajar adalah suatu kewajiban yang dipikul atas perintah orang tua, guru, atau lingkungannya. Belum memandang belajar sebagai suatu kebutuhan.  

Dampak dari kedua  hal di atas, bagi siswa adalah tidak merasakan nikmatnya (enjoy) belajar, belajar hanya sekedar melaksanakan kewajiban malahan seringkali terlihat karena keterpaksaan. Ditambah lagi materi IPA susah (abstrak) dan seringkali dibuat susah, suasana pembelajaran IPA yang monoton, penuh ketegangan, banyak tugas, nilainya jelek lagi. Begitu pula, dengan kondisi di luar kelas, suasana rumah tidak nyaman, fasilitas belajar kurang, lingkungan kehidupannya tidak kondusif. Lengkaplah penunjang kegagalan belajar.

Pendekatan kontekstual dalam pembelajaran IPA, merupakan usaha untuk mengubah kondisi di atas, yaitu dengan membuat skenario pembelajaran yang dimulai dari konteks kehidupan nyata siswa (daily life). Selanjutnya guru memfasilitasi siswa untuk mengangkat objek dalam kehidupan nyata itu ke dalam konsep pembelajaran IPA, melalui tanya-jawab, diskusi, inkuiri, sehingga siswa dapat mengkontruksi konsep tersebut dalam pikirannya. Dengan demikian siswa belajar melalui ‘doing math, hands on – activity’. Penerapan pendekatan kontekstual sejalan dengan tumbuh-kembangnya IPA itu sendiri dan ilmu pengetahuan secara umum. Dengan menggunakan pendekatan Kontekstual diharapkan guru dapat menggunakan dan mengoptimalkan pengalaman kehidupan sehari-hari siswa untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam bernalar sehingga meningkatkan kreatifitas, mengembangkan bakat dan meningkatkan hasil belajar siswa.

  1. Rumusan Masalah

“Apakah melalui penerapan pembelajaran melalui pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar IPA  pada pokok bahasan energi listrik, siswa kelas VI SDN Bungur I Kabupaten Bojonegoro.

  1. Tujuan Penelitian

“Untuk mengetahui sejauh mana peningkatan hasil belajar kreativitas dan keaktifan siswa melalui penerapan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual pada siswa kelasVI SDN Bungur  I Kabupaten Bojonegoro”.

  1. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat :

  1. Bagi siswa untuk lebih aktif dan menerapkan metode pemecahan masalah dalam pembelajaran.
  2. Bagi guru untuk menvariasikan metode pembelajaran di kelas dalam rangka meningkatkan hasil belajar dengan menggunakan metode yang tepat salah satunya adalah metode pemecahan masalah.
  3. Bagi sekolah sebagai masukan dalam rangka perbaikan pembelajaran dan peningkatan hasil belajar IPA secara keseluruhan di sekolah itu sendiri pada khususnya dan sekolah lain pada umumnya.

Bagikan dengan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *