BAB I
PENDAHULUAN

 1. Latar Belakang Masalah

Terciptanya pembelajaran yang berkualitas merupakan harapan dan tujuan dari para praktisi pendidikan terutama seorang guru sebagai ujung tombak keberhasilan pendidikan. Pembelajaran yang berkualitas adalah proses belajar yang melibatkan siswa secara aktif dan kreatif serta terciptanya suasana belajar yang menyenangkan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu untuk mencapai pembelajaran yang berkualitas tersebut dalam kegiatan pembelajaran dituntut suatu strategi pembelajaran yang direncanakan oleh guru dengan menggunakan metode dan media belajar yang tepat dan efektif. Strategi dan pelaksanaan yang dimaksud adalah suatu kegiatan yang menunjuk kepada bagaimana guru mengatur keseluruhan proses belajar mengajar, meliputi: mengatur waktu, pemilihan media pembelajaran, pemilihan pendekatan, hasil belajar, indikator, sarana dan sumber belajar, instrumen penilaian, dan sebagainya.
Proses siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang harus dilaksanakan secara terus menerus dan tiada henti. Aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mutlak diperlukan, namun yang terpenting lagi dalam meningkatkan aktivitas tersebut adalah kemampuan guru dalam merencanakan suatu kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Artinya dengan menggunakan media belajar yang tepat akan mengarahkan siswa pada ketercapaian tujuan pembelajaran yang dirumuskan.Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan pelajaran yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan denga isu sosial. Salah satu materi yang terdapat dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial adalah tentang peta lingkungan setempat, belajar peta mempunyai makna yang sama dengan belajar melalui pengalaman. Materi tentang peta lingkungan setempat dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial diperlukan pemahaman dan keterlibatan siswa secara aktif sehingga diharapkan dapat tercapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

Beberapa temuan yang dialami peneliti pada siswa kelas IV SDN Caruban  Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro  adalah rendahnya motivasi belajar dan hasil belajar terhadap mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial disebabkan oleh kurangnya minat membaca serta aktivitas belajar siswa. Siswa cenderung pasif, kurang berpartisipasi aktif, kurang berani untuk bertanya maupun menjawab pertanyaan sehingga proses kegiatan belajar mengajar terkesan kurang menunjukkan aktivitas yang berarti. Guru terlihat kurang aktif demikian pula siswanya malah terlihat pasif. Berdasarkan fakta yang ada saat ini : (1) Motivasi belajar siswa masih tergolong rendah, (2) nilai rata-rata kelas belum mencapai KKM, yaitu 65 hanya 6 dari 18 siswa yang mendapat nilai di atas KKM, (3) siswa kurang antusias terhadap pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, maka bisa dikatakan belum berhasil dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Sejauh ini pendidikan di Indonesia masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih terfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan dan ceramah menjadi pilihan utama model pembelajaran. Untuk itu diperlukan model pembelajraran baru yang lebih memberdayakan siswa yaitu yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, namun sebuah model pembelajaran yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan yang dimiliki dan didapatnya sendiri.

Salah satu model pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial yaitu dengan menggunakan model pembelajaran Think Pare Share dengan berbantu google maps sehingga siswa diharapkan mampu meningkatkan aktivitas serta hasil belajar.

Setelah peneliti mencermati dan mengkaji proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang terjadi di kelas IV SDN Caruban, ternyata guru selalu menghadapi masalah yang hampir terjadi di saat pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial berlangsung. Masalah itu sudah lama terjadi karena rendahnya minat dan motivasi siswa dalam proses pembelajaran tersebut. Sejauh ini pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dianggap sebagai pengetahuan yang hanya menghafal fakta-fakta saja. Siswa hanya mendengarkan penjelasan dari guru sambil menyimak buku pelajarannya masing-masing. Begitu guru memberi tugas latihan ternyata sebagian siswa tidak bisa menjawab tugas tersebut dengan benar. Keadaan ini sudah berulang kali terjadi tetapi tidak ada tindakan perbaikan yang dilakukan oleh guru.

Setelah guru melakukan refleksi dengan cara instrospeksi diri, mencermati hasil PR siswa, serta meminta masukan dari teman sejawat. Maka guru sebagai peneliti dapat mengetahui beberapa hal yang diduga menjadi penyebab rendahnya hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial pada siswa kelas IV SDN Caruban, di antaranya: 1) Media pembelajaran yang digunakan guru kurang efektif, 2) Guru kurang memotivasi siswa dengan baik, sehingga siswa terlihat pasif dalam proses pembelajaran, 3) Pembahasan soal latihan kurang mendalam.

Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk mengadakan PTK dengan judul “Upaya Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Tentang Peta Lingkungan Setempat Dengan Model Pembelajaran Think Pair Share berbantu Google Maps Pada Siswa Kelas IV SDN Caruban   Kecamatan Kanor  Kabupaten Bojonegoro Tahun Pelajaran 2016 /2017”.

 

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan analisis masalah di atas, maka dapat dirumuskan suatu masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana Penggunaan Goegle Maps dapat meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Tentang Peta Lingkungan Setempat Melalui Media Google Maps Pada Siswa Kelas IV SDN Caruban Kecamatan Kanor  Kabupaten Bojonegoro Tahun Pelajaran 2016/2017?
  2. Apakah terjadi peningkatan hasil belajar melalui media gogle maps pada Siswa Kelas IV SDN Caruban Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro Tahun Pelajaran 2016/2017?

 

  1. Tujuan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, diantaranya bagi:

  1. Siswa :
  • Meningkatnya hasil belajar siswa Tentang Peta Lingkungan Setempat Melalui Media Google Maps Pada Siswa Kelas IV pada semester genap Tahun Pelajaran 2016/2017

 

Guru :

  • Meningkatnya kemampuan/profesionalisme guru dalam menggunakan media goegle maps untuk meningkatkan hasil belajar siswa Tentang Peta Lingkungan Setempat  pada genap Tahun Pelajaran 2016/2017
  1. Sekolah:
  • Bertambahnya jumlah siswa yang memiliki hasil belajar tinggi pada materi Peta Lingkungan Setempat Tahun Pelajaran 2016/2017.

 

  1. Definisi Operasional ( Penjelasan Istilah )

Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul penelitian ini, maka perlu

didefinisikan hal-hal sebagai berikut:

Model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu aktivitas tertentu.  Dalam pengertian lain, model diartikan sebagai barang tiruan, metafor, atau kiasan yang dirumuskan.

Model pembelajaran kooperatif Think-Pair-Share merupakan salah satu model dari pendekatan pembelajaran kooperatif yang mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam setting kelompok kelas secara keseluruhan. Think-Pair-Share memiliki prosedur yang ditetapkan secara explisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab dan saling membantu satu sama lain. Dari cara seperti ini diharapkan siswa mampu bekerja sama, saling membutuhkan dan saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara kooperatif.

Ilmu Pengetahuan Sosial adalah mata pelajaran yang mempelajari kehidupan sosial yang didasarkan atas bahan kajian Geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, tata negara, dan sejarah.

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar
  2. Kajian dan Definisi Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar

Beberapa disiplin ilmu yang masuk dalam kajian Ilmu Pengetahuan sosial di sekolah dasar adalah geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi dan sejarah. Hal ini sesuai dengan apa yang terdapat dalam Buku Pedoman Bimbingan Guru dalam Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar di Sekolah Dasar.

Di samping itu dalam buku Pedoman Bimbingan guru dalam Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar di definisikan bahwa Ilmu  Pengetahuan Sosial adalah mata pelajaran yang mempelajari kehidupan sosial yang didasarkan pada bahan kajian geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi dan sejarah

  1. Ruang lingkup

Ruang lingkup pengajaran IPS meliputi masalah kehidupan  manusia dan masyarakat (luas maupun setempat). Pengajaran IPS mengkaji hal ikhwal kehidupan diri manusia, perekonomian , kemasyarakatan, budaya, hukum, politik, kesejarahan, geografi dan bahkan kehidupan keagamaan.

Berdasarkan hal tersebut di atas, ruang lingkup pengajaran IPS meliputi :

  1. Keluarga
  2. UangMasyarakat setempat
  1. Tabungan
  2. Pajak
  3. Ekonomi setempat
  4. Wilayah propinsi
  5. Wilayah kepulauan
  6. Pemerintah daerah
  7. Negara Republik Indonesia
  8. Pengenalan Kawasan Dunia

Ruang lingkup pengajaran sejarah meliputi :

  1. Sejarah lokal
  2. Kerajaan-kerajaan Indonesia
  3. Tokoh dan peristiwa
  4. Bangunan bersejarah
  5. Indonesia pada jaman Portugis, Spanyol, Belanda, dan Jepang
  6. Beberapa penting pada masa kemerdekaan

 

  1. Materi Peta Lingkungan Setempat
  1. Langkah-langkah membaca peta
  1. Menemukan peta kabupaten dan provinsi

Peta kabupaten dan provinsi bisa kita temukan dalam atlas. Atlas adalah buku yang berisi gambar-gambar peta. Kamu bisa menemukan peta kabupaten dan provinsi di atlas provinsi-provinsi. Lihatlah daftar isi atlas tersebut. Carilah nama provinsimu. Kemudian bukalah halaman yang ditunjukkan dalam daftar isi itu. Di halaman itu kamu akan menemukan peta  provinsimu. Nurhadi, 2004 hal 4

  1. Menemukan letak wilayah

Letak suatu wilayah bisa ditunjukkan dengan menyebutkan letak astronominya. Bagaimana menentukan letak astronomis suatu wilayah? Tarik garis lurus mendatar (horizontal) di wilayah terluar sebelah utara dan selatan. Sebutkan angka koordinat garis lintang kedua garis itu. Kemudian tarik garis tegak lurus di wilayah terluar sebelah barat dan timur. Sebutkan angka koordinat garis bujur kedua garis itu. Dengan cara di atas kita dapat menemukan letak astronomis suatu provinsi. Nurhadi, 2004 hal 5

  1. Menyebutkan batas-batas wilayah

Batas-batas wilayah bisa berupa wilayah provinsi lain. Bisa juga berupa kenampakan alam seperti selat, laut, atau samudra. Sebutkan batas-batas di sebelah timur, selatan, barat, dan utara.

  1. Menyebutkan pembagian wilayah

Perhatikan pembagian wilayah di peta yang kamu baca. Sebuah provinsi terdiri dari beberapa kabupaten. Sebuah kabupaten terdiri dari beberapa kecamatan. Sebutkan kabupaten atau kecamatan di wilayah yang kamu pelajari.

  1. Menyebutkan kenampakan-kenampakan alam dan buatan

Kamu tentu masih ingat arti simbol-simbol yang biasa terdapat di sebuah peta bukan? Ada simbol-simbol untuk kenampakan alam dan buatan. Sebutkan macam-macam kenampakan alam dan buatan di peta yang kamu pelajari. Misalnya saja gunung, sungai, teluk, pelabuhan, Bandar udara, jalur kereta api, dan sebagainya.

  1. Membaca Peta Kabupaten/Kota

Wilayah kabupaten atau kotamadya merupakan gabungan dari beberapa kecamatan. Sebuah kabupaten dipimpin oleh seorang bupati. Sementara sebuah kotamadya dipimpin oleh wali kota. Bupati dan wali kota dipilih secara langsung oleh masyarakat di kabupaten tersebut.

Mari kita baca peta salah satu kabupaten. Perhatikan gambar peta Kabupaten Bojonegoro di bawah ini. Agar lebih jelas, lihatlah peta Provinsi Jawa Timur pada buku atlasmu!

 

Hal-hal yang dapat kita baca dari peta Kabupaten Bojonegoro adalah sebagai berikut:

  1. Kabupaten Bojonegoro adalah salah satu kabupaten di provinsi Jawa Timur. Ibu kota Kabupaten Bojonegoro juga bernama Bojonegoro.
  2. Di bagian utara wilayah Bojonegoro berbatasan dengan Kabupaten Tuban. Di bagian timur wilayah Bojonegoro berbatasan dengan Kabupaten Lamongan. Di bagian selatan wilayah Bojonegoro berbatasan dengan Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Madiun. Sedangkan di bagian barat wilayah Bojonegoro berbatasan dengan Kabupaten Blora.

Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.

  1. Model Pembelajaran

Model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu aktivitas tertentu.  Dalam pengertian lain, model diartikan sebagai barang tiruan, metafor, atau kiasan yang dirumuskan.  Pouwer menerangkan tentang model dengan anggapan seperti kiasan yang dirumuskan secara eksplisit yang mengandung sejumlah unsur yang saling tergantung.  Sebagai metafora model tidak pernah dipandang sebagai bagian dari data yang diwakili.  Ia menjelaskan fenomena dalam bentuk yang tidak seperti biasanya dirasakan.  Setiap model diperlukan untuk menjelaskan sesuatu yang lebih atau berbeda dari data.  Syarat ini bisa dipenuhi dengan menyajikan data dalam bentuk: ringkasan (type, diagram), konfigurasi (structure), korelasi (pola), idealisasi, dan kombinasi dari keempatnya.  Jadi model merupakan kiasan yang padat yang bermanfaat bagi pembanding hubungan antara data terpilih dengan hubungan antara unsur terpilih dari suatu konstruksi logis.  (Pouwer 1974:243).

Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pemandu bagi para perancang desain pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar (Soekamto dan Winataputra, 1997:78-79).

Model kemandirian aktif merupakan sebuah model yang dirancang berdasarkan sistem belajar mandiri dan belajar aktif.  Belajar mandiri diartikan sebagai usaha individu siswa yang otonomi untuk mencapai suatu kompetensi akademis.  Belajar mandiri memiliki ciri utama bahwa siswa tidah tergantung pada pengarahan pengajar yang terus-menerus, tetapi mereka mempunyai kreativitas dan inisiatif sendiri serta mampu untuk bekerja sendiri dengan merujuk pada bimbingan yang diperolehnya. (Pannen dan Sekarwinahya, 1994:5:4-5).  Belajar mandiri memiliki dampak positip bagi siswa, karena mereka akan merasakan tingkat kepuasan yang tinggi, mempunyai minat dan perhatian yang tidak terputus-putus, dan memiliki kepercayaan diri yang lebih kuat dibandingkan dengan siswa yang hanya belajar secara pasif dan menerima saja (Kozma, Belle, William, dalam Pannen dan Sekarwinahya, 1994:5:9).

Belajar aktif merupakan suatu pendekatan dalam pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara belajar yang aktif menuju belajar mandiri.  Dengan belajar aktif berarti menumbuhkan kemampuan belajar secara aktif menuju pada pola kemandirian bagi siswa dan guru.  Di sini mereka akan mampu mengembangkan potensi diri secara optimal.

  1. Think Pair Share (TPS)

Model pembelajaran kooperatif Think-Pair-Share merupakan salah satu model dari pendekatan pembelajaran kooperatif yang mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam setting kelompok kelas secara keseluruhan. Think-Pair-Share memiliki prosedur yang ditetapkan secara explisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab dan saling membantu satu sama lain. Dari cara seperti ini diharapkan siswa mampu bekerja sama, saling membutuhkan dan saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara kooperatif.

Dengan cara ini siswa diberi pertanyaan atau soal untuk dipikirkan sendiri kurang lebih 2-5 menit (think), kemudian siswa diminta untuk mendiskusikan jawaban atau pendapatnya dengan teman yang duduk di sebelahnya (pair). Setelah itu pengajar dapat menunjuk satu atau lebih siswa untuk menyampaikan pendapatnya atas pertanyaan atau soal itu bagi seluruh kelas (share).

Teknik ini dapat dilakukan setelah menyelesaikan pembahasan satu topik, misalkan setelah 10-20 menit pembelajaran biasa. Setelah selesai kemudian dilanjutkan dengan membahas topik berikutnya untuk kemudian dilakukan cara ini kembali setelah topik tersebut selesai dijelaskan.

  1. Langkah-langkah dalam Tipe Think Pair Share

Adapun langkah-langkah dalam tipe think pair share adalah sebagai berikut:

  1. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai.
  2. Siswa diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru.
  3. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing.
  4. Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya.
  5. Berawal dari kegiatan tersebut, Guru mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan para siswa.
  6. Guru memberi kesimpulan.
  7. Penutup.

 

  1. Google Maps

Goegle Maps  adalah layanan pemetaan web yang dikembangkan oleh Google. Layanan ini memberikan citra satelit, peta jalan, panorama 360°, kondisi lalu lintas, dan perencanaan rute untuk bepergian dengan berjalan kaki, mobil, sepeda (versi beta), atau angkutan umum. Google Maps dimulai sebagai program desktop C++, dirancang oleh Lars dan Jens Eilstrup Rasmussen pada Where 2 Technologies. Pada Oktober 2004, perusahaan ini diakuisisi oleh Google, yang diubah menjadi sebuah aplikasi web. Setelah akuisisi tambahan dari perusahaan visualisasi data geospasial dan analisis lalu lintas, Google Maps diluncurkan pada Februari 2005.[1] Layanan ini menggunakan JavascriptXML, dan AJAX. Google Maps menawarkanAPI yang memungkinkan peta untuk dimasukkan pada situs web pihak ketiga,[2] dan menawarkan penunjuk lokasi untuk bisnis perkotaan dan organisasi lainnya di berbagai negara di seluruh dunia. Google Map Maker memungkinkan pengguna untuk bersama-sama mengembangkan dan memperbarui pemetaan layanan di seluruh dunia.

 

  1. Media Pembelajaran

Dalam proses pembelajaran, seorang guru pada saat menyajikan bahan ajar kepada para siswa kerap kali menggunakan media agar informasi/bahan ajar tersebut dapat diterima atau diserap dengan baik oleh para siswa dan pada akhirnya diharapkan terjadi perubahan perilaku baik pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), maupun keterampilan (psikomotorik).

Kegiatan belajar mengajar (pembelajaran) pada hakikatnya merupakan proses komunikasi. Dalam proses komunikasi ini guru berperan sebagai komunikator (communicator) yang akan menyampaikan pesan/bahan ajar (message) kepada siswa sebagai penerima pesan (communicant). Agar pesan atau bahan ajar yang disampaikan guru dapat diterima oleh siswa maka diperlukan wahana penyalur pesan yaitu media pembelajaran (Winataputra, 1997: 5.3).

Sadiman (2002) mengemukakan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan  pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan dan minat serta perhatian siswa sedemikian sehingga proses belajar terjadi. Media sebagai alat bantu mengajar pendidik yang digunakan adalah alat visual yaitu gambar, model, obyek dan alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman konkrit, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan relasi belajar siswa. Sedangkan model pembelajaranadalah sarana untuk dapat menampilkan pesan yang terkandung pada media tersebut.

Usman (2002) mengatakan model pembelajaranpengajaran, teaching aids atau audiovisual aids (AVA) adalah alat-alat yang digunakan guru ketika mengajar untuk membantu memperjelas materi pelajaran yang disampaikannya kepada siswa dan mencegah terjadinya verbalisme pada diri siswa. Pengajaran yang menggunakan banyak verbalisme tentu akan membosankan, sebaliknya pengajaran akan lebih menarik bila siswa gembira atau senang karena mereka merasa tertarik dan mengerti pelajaran yang diterimanya

 

  1. Peta
  2. 1. Definisi Peta

Peta adalah gambar atau lukisan keseluruhan atau pun sebagian permukaan bumi baik laut maupun darat.

  1. 2. Jenis-Jenis Peta

Peta dapat diklasifikasi menjadi dua / 2 jenis, yakni :
a. Peta Umum
Peta umum adalah peta yang manampilkan bentuk fisik permukaan bumi suatu wilayah. Contoh : Peta jalan dan gedung wilayah DKI Jakarta.
b. Peta Khusus
Peta khusus adalah peta yang menampakkan suatu keadaan atau kondisi khusus suatu daerah tertentu atau keseluruhan daerah bumi. Contohnya adalah peta persebaran hasil tambang, peta curah hujan, peta pertanian perkebunan, peta iklim, dan lain sebagainya.

  1. 3. Pembagian Peta
  2. a. Peta Luas
    Peta luas adalah peta yang menggambarkan suatu daerah yang luas seperti peta dunia, peta daerah amerika utara, peta benua, peta samudera, peta kutub utara dan kutub selatan, dsb.
    b. Peta Sempit
    Peta sempit adalah peta yang hanya menampilkan sebagian kecil suatu area. Contoh peta sempit yaitu peta desa atau pedesaan, peta kota atau perkotaan, peta gorong-gorong kampung, peta gedung, denah rumah, dan lain sebagainya.

Menurut Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL 2005) Peta merupakan wahana bagi penyimpanan dan penyajian data kondisi lingkungan, merupakan sumber informasi bagi para perencana dan pengambilan keputusan pada tahapan dan tingkatan pembangunan.

Peta adalah gambaran permukaan bumi yang dibuat dengan menggunakan skala tertentu pada bidang datar. Bidang datar yang dimaksudkan berupa kertas. Adapun kumpulan peta yang dibukukan disebut Atlas.(I.S Sadiman, 2008 hal 5)

Berbeda dengan Lestari, Wiji (2011), pengertian Peta merupakan alat bantu dalam menyampaikan suatu informasi keruangan. Berdasarkan fungsi tersebut maka sebuah peta hendaknya dilengkapi dengan berbagai macam komponen/unsur kelengkapan yan bertujuan untuk mempermudah pengguna dalam membaca/menggunakan peta.

  1. Hasil Belajar

Di dalam istilah hasil belajar, terdapat dua unsur di dalamnya, yaitu unsur hasil dan unsur belajar. Hasil merupakan sesuatu yang telah dicapai pebelajar dalam kegiatan belajarnya (dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya), sebagaimana dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995: 787). Sedangkan belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku, yang bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisik, tetapi perubahan dalam kebiasaan, kecakapan, bertambah, berkembang daya pikir, sikap dan lain-lain (Soetomo, 1993: 120). Dari pengertian ini, maka hasil belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru.

Belajar itu sebagai suatu proses perubahan tingkah laku, atau memaknai sesuatu yang diperoleh. Akan tetapi apabila kita bicara tentang hasil belajar, maka hal itu merupakan hasil yang telah dicapai oleh si pebelajar.

Istilah hasil belajar mempunyai hubungan yang erat kaitannya dengan hasil belajar. Sesungguhnya sangat sulit untuk membedakan pengertian prestasi belajar dengan hasil belajar. Ada yang berpendapat bahwa pengertian hasil belajar dianggap sama dengan pengertian prestasi belajar. Akan tetapi lebih dahulu sebaiknya kita simak pendaoat yang mengatakan bahwa hasil belajar berbeda secara prinsipil dengan prestasi belajar. Hasil belajar menunjukkan kualitas jangka waktu yang lebih panjang, misalnya satu semester dan sebagainya. Sedangkan prestasi belajar menunjukkan kualitas jangka waktu yang lebih pendek, misalnya satu pokok bahasan, satu kali ulangan harian dan sebagainya.

Berdasarkan tujuannya, hasil belajar dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

  1. Hasil belajar yang berupa kemampuan keterampilan di dalam melakukan atau mengerjakan suatu tugas, termasuk di dalamnya keterampilan menggunakan alat.
  2. Hasil belajar yang berupa kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan tentang apa yang dikerjakan.
  3. Hasil belajar yang berupa perubahan sikap dan tingkah laku.

 

 


METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN
BAB III

 

  1. Rancangan Penelitian

Dalam rangka mencari data yang valid, maka penelitian ini disusun dengan rancangan penelitian seefektif dan seefisien mungkin, agar dalam penulisannya nanti tidak memakan waktu yang terlalu lama dan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan yang diharapkan oleh peneliti. Untuk mendapatkan data tentang peranan bimbingan dan penyuluhan, penelitian ini menggunakan metode Observasi/pengamatan dan Tes.

Data yang telah diperoleh dengan menggunakan obsevasi kemudian ditabulasikan dan diletakkan dalam format tabel dengan menggunakan rumus prosentase (%) yang kemudian disusul dengan beberapa analisis hasil dari data tes yang telah dicapai. Namun sebelum kegiatan penelitian dilaksanakan, maka terlebih dahulu melaksanakan langkah-langkah sebagai berikut :

  • Persiapan

Dalam suatu kegiatan, persiapan merupakan unsur-unsur yang sangat penting. Begitu juga dalam kegiatan penelitian, persiapan merupakan unsur yang perlu diperhitungkan dengan baik sebab yang baik akan memperlancar jalannya penelitian. Sehubungan dengan judul dan rumusan masalah yang telah disebutkan pada bab terdahulu, maka persiapan dalam melaksanakan penelitian ini adalah sebagai berikut :
Dalam menyusun rencana ini penulis menetapkan beberapa hal seperti berikut ini.Menyusun rencana

  • Judul penelitian
  • Alasan penelitian
  • Problema penelitian
  • Tujuan penelitian
  • Obyek penelitian
  • Metode yang dipergunakan
  1. Ijin melaksanakan penelitian

Dengan surat pengantar dari Pusat Belajar Guru (PBG) Bojonegoro, penulis dimohonkan ijin ke Kepala SDN Caruban Kecamatan Kanor  Kabupaten Bojonegoro. Dengan demikian penulis telah mendapatkan ijin untuk mengadakan untuk melakukan penelitian di tempat tersebut.

  • Mempersiapkan alat pengumpul data
  • Pelaksanaan

Setelah persiapan dianggap matang, maka tahap selanjutnya adalah melaksanakan penelitian. Dalam pelaksanaan tahap ini mengumpulkan data-data yang diperlukan dengan menggunakan beberapa metode, antara lain :

  • Pengamatan atau Observasi
  • Tes

Setelah kegiatan penelitian selesai, maka mulai menyusun langkah-langkah berikutnya, yaitu :

  • Menyusun kerangka laporan hasil penelitian dengan mentabulasikan dan menganalisis data yang telah diperoleh, yang kemudian dikonsultasikan kepada Dosen Pembimbing dengan harapan apabila ada hal-hal yang perlu direvisi, akan segera dilakukan sehingga memperoleh suatu hasil yang optimal.
  • Laporan yang sudah selesai kemudian akan dipertaruhkan di depan Dewan Penguji, kemudian hasil penelitian ini digandakan dan disampaikan kepada pihak-pihak yang terkait.

 

  1. Tempat dan Waktu Penelitian
  2. Tempat Penelitian

Tempat penelitian tindakan kelas ini adalah di SDN Caruban kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro. Pemilihan tempat didasarkan atas beberapa alasan diantaranya:

  1. Prestasi belajar siswa di sekolah ini masih belum sesuai yang diharapkan.
  2. Sejauh ini belum ada penelitian serupa yang diadakan di SDN Caruban sehingga penelitian ini diharapkan mampu memberikan inspirasi dalam proses pembelajaran.
  3. Waktu Penelitian

Waktu penelitian dilaksanakan selama 3 bulan yaitu mulai bulan Pebruari 2017 sampai bulan April 2017.

 

  1. Subyek Penelitian

Subyek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas IV SDN Caruban Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro, dengan jumlah siswa 18 orang terdiri dari 9 laki-laki dan 9 perempuan.

 

  1. Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:

  1. Lembar Kegiatan Siswa

Lembar kegiatan ini yang dipergunakan siswa untuk membantu proses pengumpulan data hasil eksperimen.

  1. Lembar Observasi Kegiatan Belajar Mengajar
  1. Lembar observasi pengolahan pembelajaran penemuan (discovery), untuk mengamati kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran.
  2. Lembar observasi aktivitas siswa dan guru, untuk mengamati aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran.
  1. Lembar soal formatif

Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Tes formatif ini diberikan setiap akhir putaran. Bentuk soal yang diberikan adalah isian (essay).

 

  1. Teknik/Prosedur Pengumpulan Data

Proses pengumpulan data merupakan bagian terpenting dalam suatu penelitian, begitu pula dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik relevan dengan jenis penelitian kualitatif. Beberapa teknik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

  1. Teknik Observasi

Observasi merupakan alat pengumpul data yang dilakukan secara sistematis. Observasi dilakukan menurut prosedur dan aturan tertentu sehingga dapat diulangi kembali oleh peneliti dan hasil observasi memberikan kemungkinan untuk ditafsirkan secara ilmiah.

Secara umum observasi dapat dilakukan dengan cara yaitu:

  1. Observasi Partisipan

Adalah suatu proses pengamatan yang dilakukan oleh observasi dengan ikut mengambil bagian dalam kehidupan orang-orang yang akan di observasi.

  1. Observasi Non Partisipan

Merupakan suatu proses pengamatan observer tanpa ikut dalam kehidupan orang yang diobservasi dan secara terpisah berkedudukan sebagai pengamat (Margono, 2005: 161-162). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik observasi non partisipan, dimana peneliti akan diambil dalam teknik observasi ini antara lain: Data tentang peranan siswa dalam pelajaran IPS kelas 4 SDN Caruban.

  1. Teknik Tes

adalah instrumen atau alat yang digunakan untuk memperoleh informasi tentang individu atau objek. Sebagai alat pengumpul informasi atau data, tes harus dirancang secara khusus. Kekhususan tes terlihat dari bentuk soal tes yang digunakan, jenis pertanyaan, rumusan pertanyaan yang diberikan, dan pola jawabannya harus dirancang menurut kriteia yang telah ditetapkan. Demikian juga waktu yang disediakan untuk menjawab pertanyaan serta pengadministrasian tes juga dirancang secara khusus. Selain itu aspek yang diteskanpun terbatas. Biasanya meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Kekhususan-kekhususan tersebut berbeda antara satu tes dengan tes yang lain. Tes ini dapat berupa pertanyaan tertulis, wawancara, pengamatan tentang unjuk kerja fisik, checklist, dan lain-lain.

 

  1. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian dalam siklus pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan alur pokok yang sudah dirancang. Proses penulisan laporan disusun berdasarkan catatan yang dibuat ketika merancang kegiatan perbaikan pembelajaran, sedangkan pelaksanaan penelitian dan observasi peneliti berkolaborasi dengan Bapak Ahmad Sulistiono, S.Pd selaku teman sejawat yang membantu. Perbaikan pembelajaran dilakukan dalam 2 siklus dan melalui 4 tahapan-tahapan,sebagai berikut:

  1. Perencanaan Tindakan
  2. Pelaksanaan Tindakan
  3. Pengamatan (Observasi)
  4. Refleksi untuk perbaikan selanjutnya

Sebelum melaksanakan perencanaan, guru atau peneliti telah menentukan fokus tindakan yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah yang ada yaitu dengan penggunaan media peta dalam proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Permasalahan yang belum dapat teratasi dalam siklus I direfleksikan bersama teman sejawat dalam suatu pertemuan untuk mencari penyebabnya, selanjutnya peneliti merencanakan berbagai langkah perbaikan untuk diterapkan dalam siklus II. Hal itu dilaksanakan terus dari satu siklus ke siklus berikutnya sampai permasalahan yang dihadapi dapat dipecahkan dengan tuntas. Jika hasil belajar yang diharapkan telah tercapai ketuntasannya maka pelaksanaan siklus dihentikan.

Dari uraian di atas, dapat digambarkan dalam bentuk bagan alur pelaksanaan penelitian sebagai berikut:

 

 

  1. Rencana Perbaikan Pembelajaran
  1. Siklus I

Dalam melakukan penelitian, guru menyusun rencana perbaikan pembelajaran I (siklus I) dengan kompetensi dasar membaca peta lingkungan setempat (Kabupaten/Kota dan Propinsi) dengan menggunakan skala sederhana. Tujuan perbaikan yang ingin dicapai adalah agar siswa dapat mengidentifikasi makna simbol-simbol yang terdapat pada peta lingkungan setempat, agar siswa dapat menjelaskan makna simbol-simbol yang terdapat pada peta lingkungan setempat, serta agar siswa dapat menunjukkan letak Kabupaten/Kota pada peta lingkungan setempat. Dalam proses pembelajaran, guru menggunakan sumber bahan berupa Kurikulum Satuan Pendidikan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas IV, buku paket IPS kelas IV penerbit Aneka Ilmu, lembar evaluasi dan lembar kerja.

Kegiatan pembelajaran dengan menerapkan media peta pada siklus I ini dilakukan dengan langkah-langkah pembelajaran mengadakan apersepsi sebagai kegiatan awal selama ± 10 menit, dilanjutkan dengan kegiatan inti selama ± 40 menit untuk menjelaskan materi dengan menerapkan media peta, serta kegiatan akhir selama ± 20 menit yang digunakan untuk menyimpulkan materi dan pemberian tugas rumah.

 

  1. Teknik Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan selama mengadakan penelitian perlu diolah dan dianalisis dengan penuh ketelitian, keuletan dan secara cermat sehingga mendapatkan suatu kesimpulan tentang obyek-obyek penelitian yang baik. Menurut Nazir (1983 : 358) “Analisis data adalah mengelompokkan, membuat suatu urutan, memanipulasi serta menyingkatkan data sehingga mudah untuk dibaca.” Berdasarkan definisi tersebut, analisis data dapat dikatakan sebagai suatu cara untuk mengolah dan memaparkan data secara terorganisir dan sistematis.

Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran.

Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran.

            Analisis data dilakukan secara kualitatif berdasarkan hasil observasi terhadap prestasi belajar dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Melakukan reduksi, yaitu mengecek dan mencatat kembali data-data yang telah terkumpul.
  2. Melakukan interpretasi, yaitu menafsirkan yang diwujudkan dalam bentuk pernyataan .
  3. Melakukan inferensi, yaitu menyimpulkan. Apakah dalam pembelajaran ini terjadi peningkatan prestasi belajar atau tidak (berdasarkan hasil observasi).
  4. Tahap tindak lanjut, yaitu merumuskan langkah-langkah perbaikan untuk siklus perbaikan atau pelaksanaan lapangan setelah perbaikan berdasarkan informasi yang telah ditetapkan.

Kegiatan analisis menggunakan pedoman di bawah ini:

  • Meningkatkan prestasi belajar siswa ditandai dengan indikator hasil (nilai ulangan / formatif). Adapun rumus penghitungannya sebagai berikut:

Skor yang diperoleh

Nilai =                                         X 100       (Susilo, 2008:152).

Total skor maksimal

Pencapaian keberhasilan belajar siswa dalam KKM yaitu ≥ 65. Indikator keberhasilan jika siswa memiliki nilai prestasi belajar yang tinggi dan sangat tinggi ≥ 75 %.

  • Meningkatkan aktivitas siswa dalam pelaksanaan pembelajaran melalui metode inkuiri dengan analisa sebagai berikut:
  • Pencapaian ketuntasan klasikal data aktivitas pembelajaran pada siswa menggunakan rumus penghitungan sebagai berikut:

Jumlah skor perolehan

Ketuntasan  klasikal  =                                           X 100 %

Jumlah skor maksimum

 

Untuk memberi skor pada siswa ditentukan dengan kriteria sebagai berikut:

81 % – 100 %          = sangat aktif

61 % – 80 %            = aktif

41 % – 60 %            = cukup

21 % – 40 %            = kurang

0 % – 20 %              = kurang aktif (Suharsimi Arikunto, 2005:44).

Indikator ketuntasan klasikal aktivitas pembelajaran pada siswa apabila mencapai kriteria ≥ 81 % maka dikatakan sangat aktif atau berhasil

  1. Indikator Peningkatan Hasil Belajar

Indikator yang menjadi tolak ukur bahwa model pembelajaran yang digunakan dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah jika terjadi peningkatan rata-rata hasil belajar dari setiap siklus. Untuk mengetahui kategori hasil belajar yang diperoleh siswa digunakan kategori hasil belajar yang dapat dilihat pada tabel kategori hasil belajar berikut ini :

 

Tabel 3.1  Kategori Hasil Belajar

Nilai Kategori
80 -100 Sangat Baik
70 – 79 Baik
60 – 69 Cukup
50 – 59 Kurang
0 – 49 Sangat Kurang

(Muhibiansyah, 1995)

 

Indikator yang menyatakan bahwa pembelajaran yang berlangsung dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada setiap siklus, jika nilai rata-rata hasil belajar lebih dari nilai dasar, misalnya nilai rata-rata hasil belajar pada siklus pertama dibandingkan dengan nilai dasar yaitu nilai tes pada pembelajaran biasa.

 

 DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Djamarah, Syaiful Bahri. 1994. Prestasi Belajar Dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional.

Ibrahim, M. Dkk., 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : University Press

Lestari, Eny Wiji.(2011).Geografi 3 Untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta: CV Wilian.ISBN 978-979-080-014-4.

Roestiyah, NK. 2000. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Slameto. 2003. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Asdi Mahasatya.

SU, Ischak. 1997. Pendidikan IPS di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Sumatmadja, Nursid. 2000. Konsep Dasar IPS. Jakarta: Universitas Terbuka.

Sadiman. 2002.  Media Pendidikan. Jakarta: Pustekkom Dikbud dan Raja Grafindo Persada.

Tim Bina Karya Guru. 2004. Pengetahuan Sosial Terpadu Untuk SD Kelas 4. Jakarta  Penerbir Erlangga.

Google Maps – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Google_Maps


FORMAT
HASIL AKTIVITAS SISWA MENGIKUTI PEMBELAJARAN DENGAN MENGGUNAKAN 

MEDIA GOEGLE MAPS

 

Mata Pelajaran            : ……………..

Kelas/Semester            : ……………..

Hari/Tanggal               : …………….

 

 

Aspek yang diamati Skor å Skor
4 3 2 1
Persiapan          
Pelaksaanaan          
A.   Kegiatan Pendahuluan

1.    Kesiapan siswa untuk mengikuti pelajaran

         
2.    Memperhatikan dan mendengarkan penjelasan dari guru          
B.  Kegiatan Inti

1.    Menunjukkan sikap yang serius dalam proses pembelajaran dengan Media Goegle Maps

         
2.    Keseriusan dalam bekerja dan berdiskusi sesama anggota kelompok          
3.    Kemampuan dalam mempresentasikan hasil kerja kelompok          
4.    Keaktifan dalam menjawab serta menanggapi pertanyaan dari kelompok lain tentang hasil presentasi          
C.  Kegiatan Penutup

1.    Kemampuan menyimpulkan hasil presentasi

         
2.    Ketepatan dalam mengerjakan tes evaluasi          
Jumlah Skor          
Jumlah Skor Maksimum          
Ketuntasan Klasikal          

 

 

…………., …………..

Peneliti

 

 

 

………………………….

 

 

Lembar Observasi Pelaksanaan Pembelajaran

Nama Peneliti              :

Sekolah / Kelas           :

Tanggal                       :

Siklus                          :

 

No Aspek Observasi Hasil Keterangan
1 Aktivitas Siswa   Lingkarilah angka-angka yang ada disamping sesuai kemampuan :

5= Sangat Mampu

4= Mampu

3= Cukup

2= Kurang

1= Sangat Kurang

 

  a. Perhatian Siswa 5      4      3      2      1
  b. Partisipasi Siswa 5      4      3      2      1
  c. Pemahaman Siswa 5      4      3      2      1
  d. Kerja Sama Siswa 5      4      3      2      1
2 Aktivitas Guru  
  a. Penyajian Materi 5      4      3      2      1
  b. Mengorientasikan siswa 5      4      3      2      1
  c. Kemampuan Memotivasi Siswa 5      4      3      2      1
  d. Membimbing Siswa 5      4      3      2      1

 

 


            HASIL TES PERBAIKAN PEMBELAJARAN

No Nama Siswa Perolehan Nilai
Skor Kriteria
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
     
     
     

 

…………., …………..

Peneliti

 

 

 

………………………….

 

Bagikan dengan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *